Sore dan burung gereja di tepi jalan menemani langkahku menyusuri jalan setapak pinggiran kota. Orange
dedaunan pohon maple yang berguguran satu persatu jatuh di sweater mocca hadiah Ayahku lima tahun lalu, rona merah jingga senja tak
pernah gagal untuk menahanku untuk duduk sebentar di bangku taman ini. Vanessa
Pangestika, teman-temanku
memanggilku Nesa, anak perempuan kesayangan ayahku satu satunya.
Kulihat jam tanganku,
tepat menunjukkan pukul 5 sore, seperti biasanya ribuan orang di jam jam ini
selalu lalang memenuhi diorama mataku. Tak ada satu manusiapun yang benar –
benar aku kenal atau mengenal aku. Entah apa yang membawaku ke kota ini dan
entah apa yang memberanikanku sebatang diri di sini.
“Et kim?”
Tetiba laki–laki mungil,
putih, berpipi yang hampir meledak berawarna merah bak cherri berdiri tepat di
samping bangkuku, memecahkan lamunanku pada saat itu. Dia lucu sekali,
sampai-sampai aku ingin menculiknya. Di tangan mungilnya ada 2 buah
eskrim rasa cokelat. Bibirnya, kaosnya pun hidungnya penuh dengan lelehan
eskrim, membuatnya terlihat dua kali lipat menggemaskan dan membuatku berkali
kali lipat ingin menculiknya.
“Et kim?? Mau tekali.”
Jawabku, dengan mengikuti gaya bicaranya. Ku kira anak laki laki ini berusia
kurang lebih tiga tahun.
Anak kecil itu pun
tersenyum, polos sekali. Indah senja hari ini tak seberapa, tak
sebending dengan senyuman polos anak ini. Tak lama kemudian anak laki-laki itu
memberikan es krim coklat di tangan kanannya padaku.
“Ini buat Kakak?
ampuuun, kamu baik cekaliii. Timakaciiih”
“Ciapa namanya? Boleh
kakak tau?..
“Kamu sendirian aja di
sini? Ibu kamu mana?” belum sempat anak itu menjawab aku sudah bertanya lagi.
Ya aku memang hobi bertanya.
Aku celingukan ke kanan
kiri, ke belakang dan ke semua arah, tapi tak menemukan sosok wanita ataupun
seseorang yang kebingungan mencari anaknya.
“Keanuuuuu…. !
“Ayah kira kamu kemana,
ternyata kamu di sini.”
Tiba-tiba aku mendengar
suara laki laki yang tidak asing dari arah belakangku. Itu pasti Ayah bocah
laki laki ini. Aku menebaknya dalam hati.
Suara gumam Ayah bocah
itu semakin mendekat. Suara yang sepertinya aku kenal, tapi entah siapa. Tapi
suara itu sama sekali tidak asing di telingaku.
Dan….. tepat beberapa
langkah di depanku, aku melihat laki laki yang sama sekali tidak pernah aku
duga akan bertemu lagi di sini, laki-laki yang sudah aku hapus jauh jauh dari
kehidupanku, laki laki yang sama yang selalu ada di kehidupanku tiga tahunku
yang lalu. Reyhan Adipati Wijaya.
Hanya ada hening di
antara kami waktu itu. Sungguh hening yang sangat panjang. Reyhan tak juga
mengalihkan sedetikpun pandangannya padaku, pun aku. Mungkin dia sama
sepertiku, tak menyangka akan bertemu di sini.
Lampu lampu jalan mulai
menebarkan pesonannya, petangpun menampakan diri.
