Pages

September 10, 2015

Sudut Pandang

Ketika kau lelah menengadah, maka coba tundukkan keningmu di atas sajadah

Setidaknya ada kurang lebih 5 kali kau lebih teduh

Tak usah berteriak, itu tak membuat uji berhenti bergerak

Tak usah banyak mengeluh, itu juga tak membuat keruh meluruh

Adakalanya angin itu meniup tak henti dan membuat tak berdaya, tapi jangan lupa bukankah angin bisa menjadi sumber daya. Semakin kencang angin, semakin tinggi layang layang akan terbang

Kadang air serasa tak henti menghujani, bukankah ia ia bilang hujan itu berkah. Setidaknya tanah, buah buahan, bunga dan pohon pohon berbahagia.

Lalu seakan akan kemarau panjang, padahal dengan kemarau kita bisa melihat cerah biru langit lebih lama 

Semua hanya tinggal bagaimana kau menempatkan sudut pandang, itu musibah atau bagian dari anugerah

Esa itu Ia, dengan semesta luar biasa di dalamnya

Rasa hambar, asin, pahit, tapi akan manis pada akhirnya

Percayai saja…                   

Setidaknya langkahmu yang lambat, akan sampai tujuan juga di waktu yang tepat.

 

NK

 

September 6, 2015

Gajah dan Jerapah



Ada seekor Gajahnamanya Gajah. Dia berjalan seperti biasanya, setiap tapak kakinya, satu semut melompat ke atas. Dia seperti Gajah pada umumnya. Badannya chubby, hidungnya mancung. Gajah ini hebat karena dia mampu berjalan tanpa sepatu. Lebih tepatnya tidak ada size sepatu yang sesuai untuk kakinya yang tidak kecil. Lagian Gajah juga gak punya ATM maupun Smartfone, jadi dia gak bisa belanja online di Yourfashionwear.

 

Pada hari itu, Gajah pergi ke Sevel. Seven Elephant. Yakni tempat nongkrong Gajah yang masih agak cabe cabean yah mirip mirip Sevelnya manusialah. Di sana banyak rumput dan pohon pohon favoritnya para gajah gaul dan kekinian gitulah. Di sana si Gajah bertemu dengan para sohib sohibnya. Bedanya dengan manusia, Gajah gak pernah mengetag nama temen temennya dia satu sama lain ke sosmed maupun fotoin rumput rumput yang jadi makanannya ke IG.

 

Selang beberapa jam mereka ngerumpi dan ngerumput bareng, Si Gajah ocen dan eteb, lalu ia memutuskan pergi sendirian mencari udara segar. Di tengah jalan dia bertemu seekor Jerapah. Bedanya dengan manusia, Gajah dan Jerapah tak perlu membawa buku kemudian tabrakan, lalu mereka memungut buku bukunya bareng kemudian saling menatap dan berkenalan. Gajah dan Jerapah gak perlu kaya gitu, karna buku bukunya mereka udah disumbangin ke Pustaka Aksara Jogja. Ternyata Jerapah namanya adalah Apah. Nama panjanganya Apah Banget. Si Gajahpun tak kuat menahan tawa ketika Apah menyebutkan nama. Ih apa banget si Apah Banget.

 

Setiap si Gajah lewat jalan itu, si Apah entah kenapa juga selalu di sana. Seakan menunggui si Gajah untuk lewat atau sekedar bilang Hay. Mungkin. Si Gajah kemudian ge-er. Bagaimana dia tidak menyukai si Apah. Dia berbadan tinggi, berat badannya ideal, dan vegetarian.

Mereka sering jalan berdua, hampir setiap hari. Nyari rumput berdua. Makan berdua. Hari hari yang indah untuk si Gajah.

 

Pada suatu hari, Ayah Gajah. Namanya Daddy, menjodohkan si Gajah dengan gajah laki laki pilihan Ayahnya, namanya Embem. Embem Ajah. Si Gajah sedih. Karena si Gajah gamau Embem dia maunya cuma Apah. Tapi dia tak bisa berbuat banyak.

Si Gajah lalu berlari untuk menemui si Apah. Tapi baru berapa meter dia ngosngosan. Lalu dia sadar, sejak kapan Gajah bisa lari kencang. Akhirnya dia gak jadi lari. Dia jalan aja.

 

Sampai di tempat biasa dia bertemu si Apah, dia melihat Apah dengan sosok Jerapah wanita yang tinggi dan langsing, berhijab pula. Mereka terlihat sangat akrab dan bahagia sekali. Si Gajah perlahan mendatangi si Apah dan Jerapah Sholehah itu.

Dengan muka bahagia, si Apah memperkenalkan Jerapah Sholehah itu, namanya Juminten. Apah akan bertunangan dengan Juminten bulan depan, dan si Gajah diminta untuk hadir di hari bahagia itu. Si Gajah pun mengiyakan dan memberi selamat. Terselip doa dalam hati si Gajah, semoga pertunangan tidak berjalan lancar.

 

Seperti geledek di musim salju. Si Gajah pulang dengan perut lapar, dan hati yang han… cur cur cur. Lalu dia pergi ke sevel. Beli Akua. Dan makan rumput sebanyak banyaknya. Sampai perutnya mual saking kenyangnya. Tapi dia tetap sedih. Dia merenenung, lalu update pm bbm.

Sejak kapan Gajah bisa dengan Jerapah ataupun sebaliknya. Sampai kapanpun mereka berbeda.

TAMAT.

 


“selain buah apel dan gitar, semoga cerita yang gak jelas ini memiliki pelajaran yang bisa dipetik”