Untuk yang hari ini
berbahagia.
Hei kamu yang selalu ingusan dan mencari tisu
setiap menyantap makanan sedikit pedas
Kali ini usiamu menyamaiku. Bagaimana rasanya
menjadi dua puluh dua?
Masihkah kamu lebih merasa bahagia dengan
mengingat-ingat kejadian kejadian yang sudah kau sua?
Hei kamu, yang selalu lemah di hadapan
kasur, yang lebih suka mengabaikan dunia luar dan menghangatkan diri
dengan percakapan berdua.
Aku tahu, terkadang kasur memang semempesona
itu. Tapi, jauh jauh jauh di luar sana, ada banyak hal yang bisa dipelajari
dari pada berdiam diri dengan diri sendiri.
Tentang kehidupan. Tentang hal baru yang mungkin
jauh lebih menyenangkan dan mengajarimu banyak hal. Bukan hanya apa apa yg
tentang kamu dan dirimu sendiri.
Hei kamu, yang tidak pernah suka menungguku
dandan
Ini bulan ke sebelas hari ke dua puluh dua tepat
usiamu menginjak dua puluh dua. Semoga kita selalu terus berdua sampai ketika
kau menungguku berdandan untuk hari dimana aku akan menemanimu selamanya.
Hei kamu, yang harus diingatkan terlebih dahulu
hanya untuk sekedar membasahi rambutmu dengan shampo. Memandikan
motor. Membersihkan sepatu. Merapikan baju.
Bagaimana bisa menaklukan dunia, jika hal hal
kecil seperti itu masih harus diingatkan?
Untuk kamu yang selalu menjadi pacar, ojek,
teman berantem, teman makan indomie, teman makan masakan padang, teman
berbicara dengan Tuhan, dan teman hidupku nanti, mungkin.
Aku akan menghadiahimu hal yg kata orang orang
lebih berharga dari apapun, lebih berarti dari apapun dan bisa merubah segala
hal.
Yakni, WAKTU.
Ya, aku akan memberikanmu waktu dengan cuma
cuma.
Waktu sampai suatu saat nanti.
Waktu untuk menungguimu.
Waktu untuk menemanimu.
Waktu sampai kamu memakai Toga dan aku tersenyum
bangga padamu.
Waktu sampai semua impian impianmu tercapai satu
per satu.
Waktu yang membuat kita lebih menghargai waktu.
Dan demi pelukan yang selalu menjadi rumahku,
aku mencintaimu dan bahkan saat aku kesalpun aku mencintaimu.
Rumah kayu jawa, ribuan buku, perpustakaan,
kendaraan klasik, liburan setiap hari dan menikmati hari tua di hijaunya desa
seperti impianmu, semoga Tuhan dan Malaikat-Nya mengamini semuanya tanpa
terkecuali.
Bulan kesebalas hari ke dua puluh dua, semoga
selanjutnya dan seterusnya aku masih bisa menemanimu meniup lilin dan melihat dunia.
NK
Bekasi, 22 November 2014












