Pages

May 29, 2013

Hujan dan Secangkir Kopi

Luapkan apa yang ingin langit tangisi
Jika dengan begitu bumi bisa merasa lega
Tentang kering kerontang labuhku
Atas mentari yang tak kenal ampun pada sajak sajak hari
Kekeringan selaksa tiada hujan bertahun tahun
Hujan….
Ia Mendekapkan sela lengan dua manusia
Dimana kehilangan dan kepergian tak akan pernah terjadi
Karena ketakutan manusia akan menjadi basah
Karena ketakutan manusia menjadi sakit
Meluruhkan ricuh rancu pemikiran sendiri
Hujan…
Tersering aku menyukaimu
Meski terkadang aku memakimu karena kamu pernah menggagalkan harapku
Tapi aku tetap menyukaimu..
Hujan…
Kali ini masih aku menikmatimu bersama secangkir kopi
Bukan dengan dia ataupun dengan kenangan tentang siapapun
Menerawangmu dengan abu langit sekelilingmu
Jauh, terlalu jauh bahkan untuk tatapku tak bisa menembusmu
Tinggi terlalu tinggi aku tak mungkin menggapaimu

29 Mei 2013

May 19, 2013

Aku pernah membacamu


Aku pernah membacamu senja
Aku kira kau tak pernah ada

Aku pernah membacamu senja
sebagai mimpi abadi

Aku pernah membacamu senja
sebagai tinggi di hal yang paling tinggi, mengagumimu itu pasti

Aku pernah membacamu senja
mendakimu bukan bakatku
rengkuhku tak cukup luas untuk membuatmu terlepas

Aku pernah membacamu senja
sebagai nyata
saat matamu mataku bersama sama membaca senja

Aku pernah membacamu senja
sampai aku berkali kali pastikan lagi, apa ini mimpi?
tapi kau benar benar senja di dalam senjaku

Aku pernah membacamu senja
saat kau terus bernyanyi untukku meski bukan lagu untukku

Aku pernah membacamu senja
seperti memiliki tapi bukan memiliki

Aku pernah membacamu senja
sebagai kesalahan mengeja prasangka
Aku terlalu percaya diri
jatuh cinta padaku itu bukan bakatmu

Aku pernah membacamu senja
sebagai senja paling aku ingini lagi setiap hari

Aku pernah membacamu senja
dan aku ingin berlari berhenti lalu memaki diri sendiri
Aku harus tahu diri

Aku pernah membacamu senja
sebagai hal terlalu yang berlalu begitu saja
Aku pernah membaca matamu
dan itu bukan aku...