Pages

July 11, 2014

Rinai Daun Maple dan Kosa Kata di Balik Retina

Sore dan burung gereja di tepi jalan menemani langkahku menyusuri jalan setapak pinggiran kota. Orange dedaunan pohon maple yang berguguran satu persatu jatuh di sweater mocca hadiah Ayahku lima tahun lalu, rona merah jingga senja tak pernah gagal untuk menahanku untuk duduk sebentar di bangku taman ini. Vanessa Pangestika, teman-temanku memanggilku Nesa, anak perempuan kesayangan ayahku satu satunya.

Kulihat jam tanganku, tepat menunjukkan pukul 5 sore, seperti biasanya ribuan orang di jam jam ini selalu lalang memenuhi diorama mataku. Tak ada satu manusiapun yang benar – benar aku kenal atau mengenal aku. Entah apa yang membawaku ke kota ini dan entah apa yang memberanikanku sebatang diri di sini. 

 


 “Et kim?”

Tetiba laki–laki mungil, putih, berpipi yang hampir meledak berawarna merah bak cherri berdiri tepat di samping bangkuku, memecahkan lamunanku pada saat itu. Dia lucu sekali, sampai-sampai aku ingin menculiknya. Di tangan mungilnya ada  2 buah eskrim rasa cokelat. Bibirnya, kaosnya pun hidungnya penuh dengan lelehan eskrim, membuatnya terlihat dua kali lipat menggemaskan dan membuatku berkali kali lipat ingin menculiknya.

 

“Et kim?? Mau tekali.” Jawabku, dengan mengikuti gaya bicaranya. Ku kira anak laki laki ini berusia kurang lebih tiga tahun.

Anak kecil itu pun tersenyum,  polos sekali. Indah senja hari ini tak seberapa, tak sebending dengan senyuman polos anak ini. Tak lama kemudian anak laki-laki itu memberikan es krim coklat di tangan kanannya padaku.

“Ini buat Kakak? ampuuun, kamu baik cekaliii. Timakaciiih”

 

“Ciapa namanya? Boleh kakak tau?..

“Kamu sendirian aja di sini? Ibu kamu mana?” belum sempat anak itu menjawab aku sudah bertanya lagi. Ya aku memang hobi bertanya.

Aku celingukan ke kanan kiri, ke belakang dan ke semua arah, tapi tak menemukan sosok wanita ataupun seseorang yang kebingungan mencari anaknya.

 

 

 

“Keanuuuuu…. !

“Ayah kira kamu kemana, ternyata kamu di sini.”

Tiba-tiba aku mendengar suara laki laki yang tidak asing dari arah belakangku. Itu pasti Ayah bocah laki laki ini. Aku menebaknya dalam hati.

 

Suara gumam Ayah bocah itu semakin mendekat. Suara yang sepertinya aku kenal, tapi entah siapa. Tapi suara itu sama sekali tidak asing di telingaku.

 

Dan….. tepat beberapa langkah di depanku, aku melihat laki laki yang sama sekali tidak pernah aku duga akan bertemu lagi di sini, laki-laki yang sudah aku hapus jauh jauh dari kehidupanku, laki laki yang sama yang selalu ada di kehidupanku tiga tahunku yang lalu. Reyhan Adipati Wijaya.

Hanya ada hening di antara kami waktu itu. Sungguh hening yang sangat panjang. Reyhan tak juga mengalihkan sedetikpun pandangannya padaku, pun aku. Mungkin dia sama sepertiku, tak menyangka akan bertemu di sini.

Lampu lampu jalan mulai menebarkan pesonannya, petangpun menampakan diri.

 

No comments:

Post a Comment

Coment here