Pages

August 31, 2013

Sebuah Kepercayaan Adalah Kunci

Aku memberimu penuh, kepercayaan dan cinta

Raga kita memang terpaut usia dan jarak yang menjenuhkan, bagimu

Aku berusaha sebaik mungkin, setidaknya di matamu aku bersungguh-sungguh untuk itu

 

Malam itu, pukul 22

Aku menghirup udara yang berbeda, yang mencekat kerja paru-paruku

Sebuah kepercayaan itu adalah kunci

Dengan sadar dan senang hati aku memberikannya padamu

 

Ku kira..

Kau akan sekuat tenaga menjaganya

Ku kira…

Kau tak akan lupa menaruhnya dimana

Bagaimana sebuah jalan bisa ditempuh, jika terhalang satu pintu

Sedang untuk melewati pintu tersebut, kita harus memiliki kunci

Jika kunci tersebut kau buang begitu saja dengan sadarmu, mustahil kita bisa melewati pintu itu satu per satu

Ku tanya, dimana kau akan mencarinya lagi?

Bahkan kunci tersebut adalah satu-satunya di dunia

Bagaimana kau bisa lupa jika memang itu berharga?

 

Manusia..

Dengan membanggakan diri sebagai manusia tak akan menyelesaikan apapun

Tak akan mampu mengembalikan kunciku

Apa yang akan aku ceritakan kepada dunia.

Belum apa-apa dunia sudah menertawakan aku

Hidupku bukan standup comedy

Ya, satu lagi kebodohanku terdeteksi

 

Ah.. Tuhan maha segala

Kadang aku dilambungkan Ia, kemudian Ia melepaskan tanganku

 

Tuhan.. Engkau lucu, tapi aku sayang padaMu..

 

Tuhan, kenapa Kau sebaik ini?

Lagi lagi menamparku agar aku terbangun dari mimpi

 

Malam itu pukul 22

Aku mencoba mengambil dalam-dalam nafasku, lalu ku hembuskan pelan-pelan, secara berulang-ulang

Berusaha menahan air yang menggenang di seluruh kelopak mata

Betapa ketidaktahuan itu indah

Aku tidak menyalahkanmu atau siapapun dia yang berhasil mencuri hatimu

Sewajarnya memang seperti itu

Jarak adalah jeda, yang membuatmu lebih leluasa untuk mendekatkan dengan apa yang terdekat

Tak apa, lagi lagi aku ditertawakan kebodohanku sendiri

 

Mempercayai….

Seperti katamu, lain kali aku tak akan semudah ini untuk mempercayai dan mempercayakan hati

Bagaiamanapun sepenuh hati dan setengah hati itu berbeda, meskipun sama-sama menggunakan hati

Bagaimana kita mampu melanjutkan langkah dengan kekuatanmu yang setengah-setengah?

Tanpa kunci, pintu itu tidak akan pernah terbuka

Jangan memaksakan diri untuk berlari
Langkah esok hari akan lebih berat dari ini

Langkah berikutnya akan lebih menguras tenagamu
Langkah selanjutnya akan melebihi batas kemampuanmu, ku kira…

 

Jadi sayangku..

Aku bebaskan bahagiamu, apa yang kamu mau, lakukanlah sesukamu, sebahagiamu

Lepaskan semua jika ini bukanlah kebahagiaan

Aku ikhlas, asal kau juga ikhlas untuk mengikhlaskanku menjauh dari duniamu

 

August 26, 2013

Cerita Pukul Lima Pagi Buta

Meski sudah pukul lima pagi buta, tapi bulan masih di atas kepalaku dengan sisa terangnya.
Debur ombak samudra mengalun di seluas pandangan mata.
Remang, hening dan  suguhan semesta sungguh membuatku terkagum.
Hembusan sejuk udara pagi, dan kemudian samar mentari malu malu menampakkan diri
Sungguh betapa besar Tuhan akan semestaNya.

1
2

Iya, pukul setangah lima subuh tadi, Wibi Azna Pahlevi; Cowo rapih salah satu Pegawai Bank Swasta di kotakku, pemilik senyum termanis kedua setelah senyumnya Azka, dewasa dan lembut yang selalu mematahkan teori teoriku, sudah berhasil menculikku.

Nay….”
Wibi , mengalihkan pandanganku. Laki-laki yang memenuhi hariku beberapa bulan ini. Meski bukan kekasihku, tapi senyumnya cukup cukup melumpuhkanku.

Yaa.” jawabku.

Gue selalu suka dengan udara pagi pantai. Pantai selalu berhasil meluruhkan beban-bebanku ketika aku di hadapannya……… begitu juga di hadapanmu.*hening yang cukup lama*
Hahaha, yang terakhir tadi bohong ya.” Sambil ia memalingkan pandangannya padaku dengan tertawa lepasnya.

Haha… Ayaudah ini GRnya gue cancel ya?”

Hahahaha. Anyway makasih ya, udah ridho gue culik subuh subuh gini”.

Sebenernya sih gak ridho, gak ikhlas, gak mau, gak sudi. Tapi ya gimana ya, berhubung gue anaknya baik dan berbudi luhur yaaaa, …. Demi lo nih demi lo.”

Hih… dasar lo ya”.
Dan seperti biasa rambutku adalah sasaran empuknya untuk diacak acak.

Heh, ati ati poni ini poni udah gue rapihin dari adzan isya kemaren ya. Gue gamau jadi kaya charlie st12”

Hahahahhaaha~”  Dia terlalu sibuk dengan tertawanya dan bukannya berhenti malah semakin menjadi mengacak acak poniku. Sedang aku sibuk memperhatikan gelak tawanya.
Entah apa yang membuat aku bisa sedekat ini akhir akhir ini dengan cowo penggila pedas, anti kecap dan penggemar kopi hitam ini.

Nay. Aku boleh ngomong serius gak?

“Halaa, apaan sih, biasa lo kalo mau ngomong ya ngomong aja.”

“Aku tu saa…

Eh… Bi, makasih ya udah bawa aku ke tempat kek gini. Gue seneng banget tauk, gak cuman seneng aja. E tapi beneran makasih ya, Gue yakin hati gue bisa sehat banget kalo tiap pagi ke pantai terus. Enak banget ya udaranya, rendang mah lewat.” Aku berusaha memotong pembicaraan.

Hahhahahahaha, Soto Pak Min juga kalah enak ya?” Kemudian suasana romantispun gagal aku ciptakan. Seperti biasa biasanya.

Perasaan bersalah itu tiba-tiba muncul, pikiranku dipenuhi Azka. Azka Pratama, adalah cowo yang hampir 2 Tahun ini adalah pacarku, dan hampir 1 tahun ini kami pacaran jarak jauh. Dia harus meneruskan Perusahaan Ayahnya di Makassar.
Memang tidak sepantasnya aku di sini, di tempat ini, dan dengan laki-laki ini. Wibi memang bukan sesiapaku, pun memang diantara kami tidak ada hubungan apa apa. Aku bisa menjaga diri, tapi semenjak Wibi ada, untuk menjaga hati, bukanlah perkara mudah. Apalagi dengan kesibukan Azka yang semakin hari semakin menjadi, dan Wibi berusaha untuk selalu ada, aku merasa ya aku bisa apa.
Aku seperti pendosa, yang menjadi munafik. Mempertahankan jarak, dan menepikan perasaanku yang semakin memekat. Ya, jarak memudarkan rasaku tapi tidak pada prinsipku, aku yang sangat menghargai komitmen, berusaha untuk melawan arus, arus jarak, arus rasa yang bukan untuk kekasihku. Aku berusaha keras untuk tidak terlalu jauh terbawa suasana.
Naya Embun Atmaja, bagaimanapun kamu harus bisa menjaga apa yang sudah dibangun bertahun tahun Nay, kepercayaan, kebersamaan dan cinta. Kamu harus konsekuen dan jaga itu.
Aku tak bisa begitu saja egois, dan menghancurkan semua begitu saja, seketika. Aku tak mau sejahat itu.

Nay? Naya!   “ Wibi memecahkan lamunanku.

Lo baik baik aja kan ?Lo  gak lagi kesambet kan? Di situ sengaja aku diem aja.

Lo sakit? Kenapa lo diem aja dari tadi?

Eng… enggak kok. Gak papa. Gue cuman belum pernah ke pantai sepagi ini. Gue……

Iya, kamu kenapa? Ada yang mau lo ceritain ke gue? Azka kenapa lagi? Lo ada masalah lagi sama dia? Dia nyelingkuhin lo lagi?

Wibi memang teman Azka sewaktu kuliah dulu. Sampai sekarangpun.  Jadi, tentang hubunganku dan Azka kurang lebih dia banyak tahu. Aku bisa kenal dengan Wibi juga dikenalin Azka. Semenjak Azka kembali ke Makassar, Wibi diminta tolong untuk menjaga dan mengawasiku.
Azka dulu memang pernah sekali mengkhiantiku, tapi dia berusaha mempertahankan aku dan tidak akan mengulang kesalahannya lagi. Dan, aku rasa memberi kesempatan sekali lagi bukanlah suatu kesalahan.

Bi, gue ……”

Iya kamu kenapa?” Wibi tampak benar benar khawatir waktu itu, mungkin dia takut aku kesambet. Bisa jadi.

Gue….. kebelet pipis. Ini dinginnya ga bisa gitu dikecilin

Ya Tuhan Naay….. Gue kira lo kenapa. Mubazir banget dari tadi gue ngawatirin lo.

Hahahahaha… Eh serius anterin gue nyari kamar mandik. Gue lupa ga pake popok tadi.
Muka Wibi kalo lagi kesel kesel itu gemesin gimana gitu. Makanya aku seneng ngebecandain dia, padahal dia lagi ngomong serius. Tapi selalu aja aku usil, omongannya selalu aku buat becandaan. Semoga dia masih betah sayang temenan sama aku.

Lain kalo popokin itu otak lo yang kurang 5 ons itu

Aduh ribet Bi… ntar yang ada jadi sorban. Gue dikira anggota FPI.”

Hahahahahanjir lo ah, bener bener deh lo harus minum obat 10x sehari

Iya, ntar coba gue renungin saran lo pas di kamar mandi



I try to do handstand for you, I try to do headstand for you~ Handphone di tas ku bunyi. Udah ku tebak itu pasti telfon dari Azka. Ya, benar. Emang gak salah lagi, telfon dari Azka. Bingung antara mau angkat enggak. Aku harus jawab nanti.

Siapa Nay? Azka ya?”

I..iya..hehe”.

Akhirnya aku angkat telfon dari Azka.

Selamat pagi sayaaaaang. Kebonya aku nyawanya udah kumpul belum?”

Hehe, pa.. pagi juga yang. Ini malah kelebihan nyawa.

Hiii tumben…. Maaf gak bisa telfon lama lama ya. Aku mau mandi, ada meeting ntar sama client jam 7.

I..iya..” Sesekali pandangan aku tujukan pada Wibi. Dan Wibi terlihat berusaha tak memerhatikan aku yang sedang mengangkat telfon Azka.

“Love you Nona Naya Pratama…”

“Hehe.. I love you too…”
Kemudian Azka menutup telfonnya. Seketika itu aku merasa bersalah banget, atas ketidaktahuan dia padaku dan atas perasaanku sendiri. Dan kayanya aku emang udah salah banget di tempat ini, dengan Wibi dan dengan perasaanku ke Wibi. Salah, ini semua salah.  

Nay, lo jadi mau ke kamar mandi atau lo mau pipis di sini? Dih mentang mentang abis di telfon Azka bengong gitu.

Owiyak jadi jadi.”

***
Sampai ketika aku keluar dari kamar mandi. Wibi memberi satu kejutan kecil buat aku.

Taraaaa~” Wibi mencoba mengejutkanku sambil membawa boneka panda.
Kurang lebih bonekanya seperti ini.


Hah? Ini apaan? Boneka panda gendong dede panda?”

Iya, ini buat lo deh

Buat gue? Tapi Bro, gue ulang tahunnya masih Januari besok Brooo. Ini lo belinya kapan? Kok di mobil tadi gak ada?

Iya tauk, kemarin gue nemenin adik gue nyari boneka buat kado ponakan baru gitu. Eh liat boneka itu, jadi keinget lo, mirip lo gitu soalnya, ya gue beli. Taruh di bagasi bisa kali. Ntar belel lo unyel unyel kalo gue taruh depan. Ngg…. ya,  anggep aja gue shodaqohlah sama lo deh. Anggep aja gitu

Apa lo bilang? Gue mirip sama ini? Gue gak segendut ini kalik. Lagian lu kira gue ibuk ibuk mana ini boneka gendong dede lagi. Hih.. “

"hahahahahha… coba deh ngaca bentar bareng tuh boneka. Pasti lo ga bisa bedain mana lo mana si panda. Hahaha”

“Heh! E ek anet amu…:))))) “

“Dih, ngembeg”

“Iya! Banget! Tau gitu kan gue mau pesen dua bonekanya jangan cuman satuk. Hahaha. Makasih  pandanya, sering sering deh ngasi gue sesuatu, gue doain Tiara ngajakin lo balikan secepatnyah.”

Tiara Prastika Dewi, mantan pacar Wibi sekaligus temen kantor Wibi. Dia cantik banget sumpah.

“Apa sih. Kenapa coba sampai ke Tiara ntar kalo gue galau lagi gimana coba, lo mau tanggung jawab ha?”

“Hiiii.. ntar gue jajanin soto setengah mangkok deh buat lu deh. Janji.”

Tiba tiba Wibi menatapku, dan… dan…. Fix emang tatapan Wibi juara, bikin aku meleleh. Guess, what he will do guyyys? He wanna kiss me. Oh my God.. No. No.. Ini gak boleh terjadi. Gak boleh.
Cepat cepat aku memalingkan muka.

“Laper nih. Jajan apa gitu yuk. Kasian amat perut gue, belum sarapan dari tahun kemaren.”

Entah malu, entah dia merasa bersalah, tapi wajah Wibi seketika itu memerah. Dan kami hening cukup lama. Lama sekali, sampai sinetron Tukang Bubur Naik Haji tamat.

“Maafin gue ya Nay.” Ucap Wibi dengan wajah merasa bersalahnya.

Dan Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Tanpa berkata apapun.

“Gue gak seharusnya kaya tadi.”

“Duhhh.. Gue laper, dan kayanya bentar lagi gue mau berubah jadi godzila deh.”

Hiii… dasar” Dan rambutku lagi lagi adalah sasaran empuk tangannya untuk diacak acak. Pft.


Mungkin memang aku nyaman dengan Wibi, bisa jadi lebih dari perasaan nyaman. Wibi yang selalu ada dan lebih memberikan perhatian nyata padaku. Tapi meskipun Azka jauh di sana, Azka selalu berusaha nunjukin perhatiannya di tengah tengah kesibukannya. Dan betapapun aku, aku tak sebodoh itu untuk mengorbankan komitmenku bertahun tahun hanya demi egois dan nyamanku. 

August 25, 2013

Bicaralah Kepada Kenanganmu.


Bicaralah kepada kenanganmu lalu berpamitlah kepada ia
degup degup ingatan agar memudar bukan menghilang
Kenanglah samar ia bukan memekat lalu mencekat kita
Aku hanya mengalir pada alur ceritamu, tidak akan mengelak, tidak akan bergerak ke luar
Hanya berjalan menujumu, menujumu saja
Semogaku apa tujuanmu tujuanku sama
tak ada saling yang sia sia dan mensia siakan...

August 15, 2013

Anod ; Jika Aku Adalah Kata-Kata

Jika aku adalah kata-kata, aku akan membentuk kata-kata yang membuatmu tertarik untuk membaca. Aku akan tumbuh pada kata-kata dimana jeda hanyalah untuk mempermudah kau untuk mengeja. Akan ku rangkai tentangmu di dalamku. Ku tulis kau dengan tanda baca dan kalimat yang benar, agar tidak ada pemahamanmu yang salah dalam mengecap aku. Semuaku yang tak bisa kau baca atau menyakiti penglihatanmu, aku bisa menyobeknya, lalu aku akan menulis lagi, dalam lembar kertas baru, atau bahkan buku baru jika kau mau. Karena apalah arti semua kalimat rangkaiku, tanpa ada namamu semua kalimatku rancu.


Tapi sekarang aku hanyalah kata yang terbungkus keliru. Terlanjur tertulis pekat di atas kertas dengan pena merah muda yang tak bisa menghapus dirinya sendiri.