Pages

June 16, 2013

Pelukis Pelangi



Seadanya adalah awalnya kita, meraup nihil, merubah secuil menjadi sesuatu yang Agung, iya seperti namamu. Besar, ntah hati kamu terbuat dari apa. Aku baru mengetahuimu beberapa, tapi tidak ada negatifku padamu, pada tiada kabar atau berkabar, tidak ada was wasku atas itu, bukan karena tidak peduli, tapi aku tahu, tidak ada waktu luangmu yang tak kau sempatkan untukku. Terimakasih untuk itu.
Untuk seluruhmu, penerimaan segalaku, entah harus maaf atau berterimakasih. Itu lebih dari apa perkiraanku. Sejauh ini aku masih tak henti berfikir adakah orang sepertimu? Adakah itu? Aku kira hanya ada di cerita dongeng sebelum tidur. Tapi kamu nyata. Aku harus berterimakasih kepada Tuhan atas kamu.
Sekiranya lelah, angkat tanganmu, beri isyarat biar aku mampu menggegammu lebih erat lagi.
Sekiranya marah, katakan padaku, biar aku bercermin dan memperbaiki diri.
Sekiranya bahagia, biarkan seperti ini, sesampai lingkar itu di tanganku, aku mau menunggu.
Untuk kebahagiaan, penghargaan dan ke-apa adanya-an ini aku menyayangimu..


June 6, 2013

Maaf, tapi mungkin bukan kamu.


Aku pernah menjadi sabar, menjadi kuat,  menjadikan kamu yang paling menjadikanku aku
Kamu pernah menjadi senyum dalam aku, menjadi debur dalam debarku, menjadi detik dalam detakku
Entah aku yang terlalu besar kepala atau hanya perasaanku saja..
Ada candu dalam setiap obrolan kita, ada harap dalam setiap derap huruf kita. Kamu ingat bagaimana aku kemarin kemarin?
Harusnya kamu ingat, dan kamu tahu. Semua hal memiliki batas tersendiri. Begitupun dengan menunggu, memahami dan mengerti.
Niatanku hanya sekedar catatan di kepalamu, bukan hal yang untuk kau hargai bukan hal yang untuk kau juga niati. Sampai ketika aku berfikir sudah berapa kali aku diam, mengertimu, dan memahamimu setiap kamu. Apa yang aku tuntut? Apa yang aku minta?
Catatan atas semuaku harusnya kau juga lebih tahu. Sampai aku sadar, ternyata apa yang kau tulis dalam derap hurufmu hanya sekedar huruf semu. Bukan nyata baik kata maupun apa saja.
Jika aku menjadi kamu, yang jika memang benar benar menginginkan aku
Aku akan lebih mementingkan mengabarimu terlebih dahulu daripada membuang buang waktu dengan kenalan baru.
Mungkin jika aku menjadi kamu, aku  akan lebih mengutamakan membalas pesanmu
Mungkin jika aku menjadi kamu, aku habiskan istirahat siangku untuk sekedar menanyakan kabarmu, mendengarkan suaramu, membicarakan hal hal yg tidak penting denganmu
Mungkin jika aku menjadi kamu, aku akan lebih memutar otak lagi, bagaimana aku bisa menghubungimu jika hape pintarmu selalu bermasalah, aku akan berusaha keras untuk itu
Mungkin jika aku menjadi kamu, akan ku lawan rasa bosanku dengan lebih mengakrabkanmu pada hatiku bukan dengan membandingkan dengan yang lain.
Mungkin jika aku menjadi kamu, akan ku yakinkan kamu dengan semua caraku agar kamu menjadikanku milikmu.
Mungkin jika aku menjadi kamu, tak akan aku sia sia kan waktu dengan menjadikan semu menjadi abu abu. Aku pertegas dengan memilikimu.
Mungkin jika aku menjadi kamu, jarak bukanlah persoalan. Aku bisa menggegammu dengan percayaku dengan kuatku dengan selalu menjadi ada di sela sela waktu luangku.
Tapi sayang aku bukan kamu.
Aku ingin meminta maaf, tapi aku harus meminta maaf untuk apa aku tidak begitu tahu kesalahanku
Apa aku salah, jika aku merubah jalan fikiranku untuk terus memahami kamu menjadi pembelajaranmu?
Apa aku salah, jika aku lebih menghargaimu dengan tiadaku, karena sejauh ini adaku tak begitu benar benar kau hargai?
Apa aku salah, jika aku berubah menjadi penyesalan hanya agar menyadarkanmu?
Apa aku salah, jika aku berhenti menujumu, karena genggamu tak juga menguatkan aku?
Apa aku salah, jika aku lebih memilih untuk menerima genggam yang dengan sekuat tenaganya meraih tanganku?
Apa aku salah?
Semoga dengan tidak adanya hatiku, akan membuka matamu. Bagaimana kau abaikan sekelilingmu demi entah apa itu.
Apa yang sudah kau lewatkan apa yang sudah terlewatkan tak selalu bisa kau pungut kembali.
Thank. You’ve been ever make me better
Hey, bukankah aku hanya sahabat, sahabat tak akan meninggalkan sahabatnya begitu saja. Seperti janjiku.. aku tak akan pernah meninggalkanmu.. Aku ada, akan ada, namun kamu bukan (lagi) prioritasku..




June 2, 2013

Kepada F


Samarmu atas jarak tak membuatku urung untuk menjadikanmu dekat
Menjalani waktu hanya dengan huruf, gambar dan suara itu bukan perkara mudah
Mengenali manusia satu sama lain bukan lagi menggunakan mata melainkan isi kepala
Aku baru mengetahuimu secuil, pun kamu
Di dalamku masih ada sederet yang belum terbaca, pun pada kamu
Masihkah kau ingin membacaku…?
Memahami nalarku…?
Menjadikan jarak sebagai dasar sabar?
Menjadikanku alasan untuk kau ingin pulang?
Bisakah kamu?
Mampukah kamu?
Membunuh bosan yang lebih besar dari pada niatan?
Dapatkah kamu menenangkanku meski dalam samar?
Sanggupkah kamu merasa nyaman meski bahu dan lengan hanya ada dalam icon maha chat messenger?
Sanggupkah kamu menunggu waktu sampai genggamu bertamu digenggamku?
Sanggupkah kamu menunggu waktu sampai mata kita benar benar bertemu?

Hehe F for ... Fvck you're duck. Favorite Duck. :p