Aku
pernah menjadi sabar, menjadi kuat, menjadikan kamu yang paling menjadikanku aku
Kamu
pernah menjadi senyum dalam aku, menjadi debur dalam debarku, menjadi detik
dalam detakku
Entah
aku yang terlalu besar kepala atau hanya perasaanku saja..
Ada
candu dalam setiap obrolan kita, ada harap dalam setiap derap huruf kita. Kamu ingat
bagaimana aku kemarin kemarin?
Harusnya
kamu ingat, dan kamu tahu. Semua hal memiliki batas tersendiri. Begitupun dengan
menunggu, memahami dan mengerti.
Niatanku
hanya sekedar catatan di kepalamu, bukan hal yang untuk kau hargai bukan hal yang
untuk kau juga niati. Sampai ketika aku berfikir sudah berapa kali aku diam,
mengertimu, dan memahamimu setiap kamu. Apa yang aku tuntut? Apa yang aku
minta?
Catatan
atas semuaku harusnya kau juga lebih tahu. Sampai aku sadar, ternyata apa yang
kau tulis dalam derap hurufmu hanya sekedar huruf semu. Bukan nyata baik kata
maupun apa saja.
Jika
aku menjadi kamu, yang jika memang benar benar menginginkan aku
Aku akan
lebih mementingkan mengabarimu terlebih dahulu daripada membuang buang waktu
dengan kenalan baru.
Mungkin
jika aku menjadi kamu, aku akan lebih
mengutamakan membalas pesanmu
Mungkin
jika aku menjadi kamu, aku habiskan istirahat siangku untuk sekedar menanyakan
kabarmu, mendengarkan suaramu, membicarakan hal hal yg tidak penting denganmu
Mungkin
jika aku menjadi kamu, aku akan lebih memutar otak lagi, bagaimana aku bisa
menghubungimu jika hape pintarmu selalu bermasalah, aku akan berusaha keras
untuk itu
Mungkin
jika aku menjadi kamu, akan ku lawan rasa bosanku dengan lebih mengakrabkanmu
pada hatiku bukan dengan membandingkan dengan yang lain.
Mungkin
jika aku menjadi kamu, akan ku yakinkan kamu dengan semua caraku agar kamu
menjadikanku milikmu.
Mungkin
jika aku menjadi kamu, tak akan aku sia sia kan waktu dengan menjadikan semu
menjadi abu abu. Aku pertegas dengan memilikimu.
Mungkin
jika aku menjadi kamu, jarak bukanlah persoalan. Aku bisa menggegammu dengan
percayaku dengan kuatku dengan selalu menjadi ada di sela sela waktu luangku.
Tapi
sayang aku bukan kamu.
Aku ingin
meminta maaf, tapi aku harus meminta maaf untuk apa aku tidak begitu tahu
kesalahanku
Apa aku
salah, jika aku merubah jalan fikiranku untuk terus memahami kamu menjadi
pembelajaranmu?
Apa aku
salah, jika aku lebih menghargaimu dengan tiadaku, karena sejauh ini adaku tak
begitu benar benar kau hargai?
Apa aku
salah, jika aku berubah menjadi penyesalan hanya agar menyadarkanmu?
Apa aku
salah, jika aku berhenti menujumu, karena genggamu tak juga menguatkan aku?
Apa aku
salah, jika aku lebih memilih untuk menerima genggam yang dengan sekuat
tenaganya meraih tanganku?
Apa
aku salah?
Semoga
dengan tidak adanya hatiku, akan membuka matamu. Bagaimana kau abaikan
sekelilingmu demi entah apa itu.
Apa yang
sudah kau lewatkan apa yang sudah terlewatkan tak selalu bisa kau pungut
kembali.
“Thank. You’ve been ever make me better”
Hey,
bukankah aku hanya sahabat, sahabat tak akan meninggalkan sahabatnya begitu
saja. Seperti janjiku.. aku tak akan pernah meninggalkanmu.. Aku ada, akan ada,
namun kamu bukan (lagi) prioritasku..