Pages

October 20, 2014

Dear : Bapak Majid

Dan ini ketika kita pertama kalinya saling melempar senyum.. lalu kita sengaja untuk jatuh cinta. Seperti katamu cinta tidak mengenal kota dan satuan kilometer. Ku kira kakimu tak bisa diajak berlari, berjalan atau bahkan melompat. Kamu lebih dari itu. Kamu bahkan mampu membuatku terbang. Satu demi satu mengumpulkan perca perca mimpi. Lalu senyum senyum sendiri setiap pagi setiap kali membaca pesan dan melihat kiriman gambarmu hari ini. Kamu memang tak sekeren adam levine tapi di hatiku kamu jauh lebih baik dibanding adam bahdukun sedang ngobatin pasiennya. Tadinya aku mau menulis puisi. Tapi tinta bolpoinku habis. Warung tutup. Alfamat ratusan meter. Mungkin takdirku tak untuk merayumu dengam puisi. Maka ku harap kamu tau. Puisi tak ada yg lebih bermakna dari setiap kehadiranmu. Satu pintaku kuharap kau tak lupa bilang eaaa setelah ini, sayang. Dari tadi yg nahan untuk tidak makan indomie. I love you too.