Senja waktu itu bukan di atas gedung, bukan pula di atas gunung
melainkan wajahmu
Ikan kesana kemari di aquarium itu, cantik dan mungil
Tapi gurat senyummu lebih menarik, ceritamu, semua tentang kamu lebih
menarik
Di sudut itu, ada yang
hampir meledak. Jantungku.
Resah
membakar kalori
Maha buta mengaburkan
liku kaku nadiku
Bagaimana bisa untuk
tidak jika kepadamu segala iya bermuara
Alur logika menyaring
semua hal yang ia sisakan hanya namamu dan kamu
Pada pesonamu bertekuk
lutut
Melucuti “tidak”,
“bodoh”, “jangan” dan “awas, menelan
“iya” dan “baiklah” secara mentah mentah
Itu aku, diluar
kuasaku, kamu mengalahkan apa yang akal sehat katakan kepadaku
Kamu menang !
Tidak ada kecupan di
dahi, tidak ada aku mencintaimu tidak ada tatapan hangat, tidak mendapati ini
semua karena aku menyayangimu
Seperti ditampar Tuhan
berkali kali, lebam itu di hatiku
Resmi kecewaku pangkat
dua, tapi aku bisa apa
Telah tak akan mampu
menjadi sebelum
Telah tak kan bisa
kembali

No comments:
Post a Comment
Coment here