Pages

November 22, 2014

Bulan ke Sebelas hari ke Dua Puluh Dua

Untuk yang hari ini berbahagia.

 

Hei kamu yang selalu ingusan dan mencari tisu setiap menyantap makanan sedikit pedas

Kali ini usiamu menyamaiku. Bagaimana rasanya menjadi dua puluh dua?

Masihkah kamu lebih merasa bahagia dengan mengingat-ingat kejadian kejadian yang sudah kau sua?

 

Hei kamu, yang selalu lemah di hadapan kasur,  yang lebih suka mengabaikan dunia luar dan menghangatkan diri dengan percakapan berdua.

Aku tahu, terkadang kasur memang semempesona itu. Tapi, jauh jauh jauh di luar sana, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pada berdiam diri dengan diri sendiri.

Tentang kehidupan. Tentang hal baru yang mungkin jauh lebih menyenangkan dan mengajarimu banyak hal. Bukan hanya apa apa yg tentang kamu dan dirimu sendiri.

 

Hei kamu, yang tidak pernah suka menungguku dandan

Ini bulan ke sebelas hari ke dua puluh dua tepat usiamu menginjak dua puluh dua. Semoga kita selalu terus berdua sampai ketika kau menungguku berdandan untuk hari dimana aku akan menemanimu selamanya.

 

Hei kamu, yang harus diingatkan terlebih dahulu hanya untuk sekedar membasahi rambutmu dengan shampo. Memandikan motor. Membersihkan sepatu. Merapikan baju.

Bagaimana bisa menaklukan dunia, jika hal hal kecil seperti itu masih harus diingatkan?

 

Untuk kamu yang selalu menjadi pacar, ojek, teman berantem, teman makan indomie, teman makan masakan padang, teman berbicara dengan Tuhan, dan teman hidupku nanti, mungkin.

Aku akan menghadiahimu hal yg kata orang orang lebih berharga dari apapun, lebih berarti dari apapun dan bisa merubah segala hal.

Yakni, WAKTU.

Ya, aku akan memberikanmu waktu dengan cuma cuma.

Waktu sampai suatu saat nanti.

Waktu untuk menungguimu.

Waktu untuk menemanimu.

Waktu sampai kamu memakai Toga dan aku tersenyum bangga padamu.

Waktu sampai semua impian impianmu tercapai satu per satu.

Waktu yang membuat kita lebih menghargai waktu.

 

Dan demi pelukan yang selalu menjadi rumahku, aku mencintaimu dan bahkan saat aku kesalpun aku mencintaimu.

 

 

 

Rumah kayu jawa, ribuan buku, perpustakaan, kendaraan klasik, liburan setiap hari dan menikmati hari tua di hijaunya desa seperti impianmu, semoga Tuhan dan Malaikat-Nya mengamini semuanya tanpa terkecuali.

 

Bulan kesebalas hari ke dua puluh dua, semoga selanjutnya dan seterusnya aku masih bisa menemanimu meniup lilin dan melihat dunia.

 

NK

Bekasi, 22 November 2014